Blast-Off – Pertandingan pekan ke-21 Serie A musim 2025/2026 menyajikan drama yang tidak terduga di Gewiss Stadium. Laga yang seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi ketajaman lini depan Atalanta justru berakhir dengan kekecewaan. Meski Nikola Krstovic berhasil mencetak gol pembuka yang indah, sang dewi (La Dea) harus puas berbagi angka setelah Pisa, tim kuda hitam yang sedang naik daun, berhasil memaksakan hasil imbang 1-1 melalui skema serangan balik yang mematikan.
Hasil ini tentu menjadi pukulan telak bagi anak asuh Gian Piero Gasperini yang tengah berjuang keras untuk menembus zona empat besar klasemen sementara. Bagi Pisa, hasil imbang di markas tim raksasa seperti Atalanta adalah bukti bahwa mereka bukan sekadar numpang lewat di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Italia musim ini.
Jalannya Pertandingan, Dominasi Nikola Krstovic Atalanta yang Berujung Buntu

Sejak peluit pertama dibunyikan, Atalanta langsung mengambil inisiatif serangan. Dengan formasi khas 3-4-2-1, Gasperini menginstruksikan anak asuhnya untuk menekan tinggi (high pressing). Aliran bola dari lini tengah yang dikomandoi oleh Ederson dan Mario Pasalic membuat pertahanan Pisa harus bekerja ekstra keras sejak menit-menit awal.
Atalanta berkali-kali menciptakan peluang melalui sisi sayap yang ditempati oleh Matteo Ruggeri dan Raoul Bellanova. Namun, disiplinnya barisan pertahanan Pisa yang digalang oleh duet bek tengah mereka membuat peluang-peluang tersebut seringkali kandas sebelum sempat mengancam gawang lawan.
Pisa sendiri bermain sangat pragmatis. Mereka sadar bahwa meladeni permainan terbuka Atalanta di Bergamo adalah sebuah bunuh diri taktis. Oleh karena itu, pelatih Pisa menerapkan blok pertahanan rendah (low block) dan hanya menyisakan satu striker di depan untuk memicu serangan balik cepat. Hingga 30 menit babak pertama berjalan, skor kacamata masih bertahan meskipun penguasaan bola Atalanta mencapai 65%.
Momen Magis Nikola Krstovic: Gol yang Memecah Kebuntuan
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-42. Berawal dari skema serangan teratur, Ederson memberikan umpan pendek kepada Nikola Krstovic yang membelakangi gawang di pinggir kotak penalti. Dengan satu sentuhan kontrol yang sempurna, penyerang asal Montenegro tersebut memutar badannya dan melepaskan tembakan melengkung kaki kanan ke arah tiang jauh.
Bola meluncur deras tanpa mampu dijangkau oleh kiper Pisa. Gol tersebut disambut gemuruh ribuan pendukung Atalanta yang memadati stadion. Ini merupakan gol ke-12 Nikola Krstovic musim ini, yang semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu striker paling berbahaya di Serie A setelah didatangkan pada bursa transfer musim lalu.
Memasuki ruang ganti, Atalanta memegang kendali penuh. Namun, sepak bola seringkali menghukum tim yang gagal mengonversi dominasi menjadi gol tambahan. Kegagalan Atalanta untuk mencetak gol kedua di akhir babak pertama ternyata menjadi awal dari petaka yang akan terjadi di babak kedua.
Respon Pisa di Babak Kedua, Disiplin dan Mematikan

Keluar dari kamar ganti, Pisa tampak melakukan perubahan pendekatan. Mereka tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai lebih berani melakukan transisi menyerang saat pemain tengah Atalanta melakukan kesalahan umpan. Gasperini, di sisi lain, tampak menginstruksikan timnya untuk tetap menyerang demi “membunuh” pertandingan secepat mungkin.
Namun, efisiensi menjadi masalah besar bagi Atalanta di babak kedua. Nikola Krstovic hampir mencetak gol keduanya melalui sundulan kepala di menit ke-55, namun bola hanya membentur mistar gawang. Tak lama kemudian, peluang emas dari jarak dekat yang didapat oleh Charles De Ketelaere juga berhasil ditepis secara heroik oleh kiper Pisa.
Ketidakmampuan Atalanta menambah keunggulan memberikan angin segar bagi Pisa. Perlahan tapi pasti, Pisa mulai menemukan celah di lini pertahanan Atalanta yang terlalu naik ke depan. Serangan balik yang mereka bangun mulai terlihat lebih terorganisir dan berbahaya.
Petaka di Menit Akhir: Gol Balasan Pisa yang Mengejutkan
Bencana bagi Atalanta datang pada menit ke-78. Berawal dari kegagalan lini tengah Atalanta mengantisipasi bola liar, gelandang Pisa langsung mengirimkan umpan panjang ke area kosong di sisi kiri pertahanan Atalanta. Wing-back Pisa yang berlari kencang berhasil mengirimkan umpan silang rendah ke dalam kotak penalti.
Dalam situasi kemelut, penyerang lubang Pisa berhasil menyerobot bola di depan bek Atalanta yang tampak ragu-ragu dalam melakukan sapuan. Bola meluncur mendatar melewati sela-sela kaki kiper Marco Carnesecchi. Skor berubah menjadi 1-1.
Stadion Gewiss seketika terdiam. Para pemain Atalanta tampak frustrasi, sementara bangku cadangan Pisa merayakan gol tersebut seperti layaknya memenangkan gelar juara. Di sisa waktu 10 menit plus tambahan waktu, Atalanta mencoba segala cara untuk kembali unggul. Nikola Krstovic memasukkan dua penyerang tambahan, namun pertahanan Pisa yang sudah “berbau darah” kemenangan hasil imbang tampil luar biasa solid. Hingga wasit meniup peluit panjang, skor 1-1 tetap bertahan.
Analisis Taktik: Mengapa La Dea Gagal Mengunci Kemenangan?
Ada beberapa faktor teknis yang menyebabkan hasil imbang ini terasa seperti kekalahan bagi Atalanta:
-
Kurangnya Efisiensi Lini Depan: Atalanta mencatatkan total 18 tembakan dengan 8 di antaranya mengarah ke gawang (on target). Namun, hanya satu yang berbuah gol. Keberuntungan juga tidak berpihak saat bola Nikola Krstovic membentur mistar.
-
Lubang di Transisi Bertahan: Gaya bermain Nikola Krstovic yang sangat ofensif selalu menyisakan risiko besar jika lawan mampu melakukan serangan balik cepat. Gol Pisa adalah contoh klasik dari celah transisi tersebut.
-
Pergantian Pemain yang Terlambat: Beberapa pengamat menilai Gasperini sedikit terlambat melakukan penyegaran di lini tengah. Saat pemain seperti Ederson mulai kelelahan, Pisa justru meningkatkan intensitas lari mereka di area tersebut.
Bagi Nikola Krstovic Atalanta, golnya mungkin menambah catatan pribadi di daftar Top Scorer, namun ia sendiri tampak kecewa di akhir laga. Dalam sesi wawancara singkat, ia menyatakan bahwa kemenangan tim jauh lebih penting daripada rekor gol individu.
Dampak di Klasemen dan Langkah Selanjutnya bagi Atalanta

Dengan hanya meraih satu poin, posisi Atalanta di klasemen sementara Serie A terancam tergeser oleh rival-rival terdekatnya seperti AC Milan atau AS Roma yang baru akan bertanding esok hari. Ambisi untuk kembali ke Liga Champions musim depan menuntut konsistensi, terutama saat menghadapi tim-tim dari papan tengah dan bawah.
Bagi manajemen Atalanta BC, hasil ini menjadi alarm bahwa kedalaman skuad di sektor pertahanan mungkin perlu ditinjau kembali sebelum bursa transfer musim dingin ditutup. Sementara itu, bagi Pisa, hasil ini menjadi modal berharga untuk menjauh dari zona degradasi dan membuktikan bahwa strategi defensif yang disiplin tetap memiliki tempat di sepak bola modern.
Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian berat bagi mentalitas La Dea. Mereka harus segera bangkit dan melupakan hasil imbang ini jika ingin tetap berada dalam jalur perburuan gelar atau setidaknya mengamankan tiket kompetisi Eropa.
Kesimpulan
Sepak bola adalah permainan tentang efisiensi, dan itulah yang gagal ditunjukkan oleh Atalanta saat menjamu Pisa. Meski gol Nikola Krstovic sempat memberikan harapan, kegagalan dalam menjaga fokus selama 90 menit harus dibayar mahal dengan hilangnya dua poin krusial di kandang sendiri. Pisa pulang dengan kepala tegak, sementara Atalanta harus kembali ke papan tulis untuk mengevaluasi kerentanan mereka.
Drama di Gewiss Stadium ini menjadi pengingat bagi seluruh tim Serie A bahwa tidak ada lawan yang bisa diremehkan, dan dominasi statistik tidak menjamin tiga poin di tangan.
